Menulis Kreatif Tidak Cukup dengan Pelatihan

Posted: September 29, 2016 in Artikel

Pelatihan Penulisan Kreatif TLC (Teacher Learning Center) bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang yang diadakan pada Rabu-Kamis (21-22 September 2016) diikuti oleh 40 guru SMP, SMA dan SMK di Kabupaten Lumajang. Menurut salah satu pemateri, Rini Mujiarti, pelatihan ini sangat bermanfaat bagi guru terutama pada saat guru memenuhi kredit poin kenaikan pangkat pada item penulisan dan publikasi ilmiah.

Rini yang pernah meraih berprestasi dalam lomba karya ilmiah guru tingkat propinsi menambahkan, “Kalaupun belum bisa membuat karya tulis, ya setidaknya pelatihan ini memberi bekal tambahan bagi guru untuk menyusun laporan tertulis tentang pengembangan diri guru”. Menurut M. Subakri, sebagai pemateri utama, penulisan kreatif memberikan banyak sekali manfaat selain untuk kepentingan keprofesian guru. Narasumber yang juga guru SDN Jambekumbu 01 Pasrujambe tersebut membuktikan sendiri bahwa banyak hal telah dia peroleh dari hasil menulis kreatif. Beragam prestasi tingkat Nasional pun dia sandang seperti Juara Penulisan Blog yang diselenggarakan Guraru.com. Dia memberi pernyataan motivasi, “Apa yang saya sampaikan ini bukan untuk menunjukkan saya lebih pinter, tetapi saya sangat berharap akan tumbuh keinginan yang kuat diantara para guru di Lumajang utamanya yang mengikuti pelatihan agar mulai menulis. Syukur-syukur Bapak Ibu bisa mengikuti kompetisi menulis yang sering diadakan lewat media internet”.

Berdasarkan pengamatan selama pelatihan, para peserta yang sebagian besar ibu-ibu guru terlihat sangat antusias. Namun apakah antusiasme yang tinggi akan dapat memenuhi target pelatihan yang lumayan berat. Mengingat target pelatihan sebagaimana disampaikan oleh Bapak Agus Salim, Kepala Bidang Dikmenum Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang adalah terciptanya komunitas penulis dari kalangan guru-guru di Lumajang. Bahkan dia menyatakan, “Nanti akan saya pantau hasil tulisannya lewat blog komunitas penulis”.

Di sisi lain peserta yang berangkat dari latar belakang beragam tentu memiliki pandangan yang berbeda. Seperti disampaikan oleh Imam Hari Priyono salah satu peserta pelatihan dari SMAN Jatiroto. Menurutnya, target pelatihan terlalu tinggi jika sampai pada terbentuknya blog penulis dimana guru bisa aktif membagikan karya tulisnya secara rutin. Guru Olah Raga tersebut juga menambahkan, “Ini seperti siswa yang ikut ekstrakurikuler olah raga. Kalo hanya ikut ekstra tapi tidak mau menempa latihan-latihan rutin tambahan di rumahnya, ya mana mungkin bisa jadi atlet sungguhan. Paling ya hanya dapat nilai ekstrakurikuler di rapor. Jadi selebihnya tergantung guru masing—masing. Pelatihannya bagus, tapi untuk sampai target yang disampaikan Pak Kabid agak sulit.”

Senada dengan Imam, Mukhlis mengakui bahwa dirinya mengikuti pelatihan penulisan kreatif karena tuntutan untuk mendapatkan sertifikat pelatihan sebagai syarat kenaikan pangkat. Guru PKN SMAN Klakah ini mengatakan, “Saya ikut ini ya pertama untuk mengejar sertifikat, sih. Tapi setidaknya saya mendapatkan wawasan bagaimana menjadi penulis kreatif. Karena selama ini saya punya banyak kendala dalam hal menulis”. Dia menambahkan meskipun belum bisa menulis, dengan pelatihan ini gambaran menyelesaikan hambatan tersebut sudah ada.

Menanggapi kesulitan para peserta pelatihan untuk mencapai target, Dina Ria Fatmawati, salah seorang peserta yang juga panitia pelaksana kegiatan mengakui bahwa menjadikan guru-guru sebagai penulis kreatif tidak mudah. Artinya pelatihan ini memang tidak cukup untuk langsung mencetak para penulis. Guru Kimia SMKN Tempeh tersebut memberikan solusi mudah bagi para guru yang masih memiliki kendala dalam menulis. Para guru secara mandiri harus mulai membuat tulisan-tulisan kecil apa yang menurutnya menarik baik secara offline di buku harian atau secara online melalui media sosial. Selajutnya tentu tidak boleh malas mengumpulkan tulisan-tulisan ini dalam satu file untuk dipakai sebagai bahan tulisan yang lebih utuh.

Lebih jauh Dina memaparkan bahwa jika proses merangkai ide ini masih belum bisa mengatasi hambatan menulis maka perlu adanya monitoring oleh mentor secara berkelanjutan. “Jadi, kami panitia penyelenggara juga merumuskan tindaklanjut paling mungkin dilakukan dengan daring (dalam jaringan). Kelas pelatihan ini sudah kita wujudkan dalam grup WA di media sosial sehingga para guru bisa terus menyampaikan permasalahannya. Sebaliknya para pemateri atau nara sumber juga terus dapat mendampingi agar calon-calon penulis kreatif ini meningkat motivasi dan kemampuannya”.

Selama satu jam setengah penulis memaparkan tulisan ini sebagai salah satu tugas penulisan reportase dalam pelatihan. Kami menilai bahwa pelatihan ini perlu dikembangkan terus kualitasnya utamanya dalam penyediaan fasilitas internet. Secara kuantitas para guru yang belum mendapat pelatihan serupa juga perlu dilibatkan. Setidaknya satu guru dalam satu sekolah perlu mengikuti pelatihan semacam ini. Jika Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang ingin mencetak para penulis kreatif handal, tentu jawabannya bukan hanya monitoring. (HD,UL)

What's your comment (Apa Komentar Anda)?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s